Majas Sarkasme dalam Teks Narasi: Pengertian, Ciri, dan Contoh
Halo, sahabat IndoGrammatica! Kali ini saya akan membahas tentang salah satu jenis majas yang sering digunakan dalam teks narasi, yaitu majas sarkasme. Apa itu majas sarkasme? Bagaimana ciri-cirinya? Bagaimana contoh penggunaannya dalam teks narasi? Yuk, simak penjelasan berikut ini!
Pengertian Majas Sarkasme
Majas adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang bermakna tidak sebenarnya untuk menciptakan kesan tertentu. Majas terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah majas sindiran. Majas sindiran adalah majas yang mengungkapkan sindiran terhadap sesuatu atau seseorang.
Majas sarkasme adalah salah satu jenis majas sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar dan menyakitkan untuk menyindir atau mengejek sesuatu atau seseorang. Majas sarkasme biasanya diucapkan secara langsung dan blak-blakan oleh penutur atau penulis. Majas sarkasme sering digunakan untuk mengekspresikan rasa marah, kesal, atau tidak suka terhadap sesuatu atau seseorang.
Ciri-Ciri Majas Sarkasme
Majas sarkasme memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis majas lainnya, yaitu:
- Menggunakan kata-kata yang bersifat negatif, seperti bodoh, tolol, jelek, goblok, dan sebagainya.
- Menggunakan kata-kata yang bersifat positif, tetapi dengan nada yang sinis atau tidak tulus, seperti wah, wah; bagus sekali; hebat; dan sebagainya.
- Menggunakan intonasi atau nada suara yang tinggi atau rendah untuk menekankan sindiran.
- Menggunakan ekspresi wajah atau gerak tubuh yang menunjukkan rasa tidak suka atau tidak setuju.
Contoh Majas Sarkasme dalam Teks Narasi
Majas sarkasme sering digunakan dalam teks narasi untuk menggambarkan karakter atau perilaku tokoh antagonis, yaitu tokoh yang memiliki peran sebagai lawan atau musuh dari tokoh protagonis. Dengan menggunakan majas sarkasme, penulis dapat membuat tokoh antagonis menjadi lebih hidup dan menarik perhatian pembaca.
Salah satu contoh teks narasi yang menggunakan majas sarkasme adalah cerita fantasi "Kue-Kue Mao" yang terdapat di buku paket bahasa Indonesia kelas 7 halaman 58-59. Cerita ini menceritakan tentang Mao, seorang peri kecil yang memiliki kelebihan dalam membuat kue-kue ajaib. Namun, Mao sering mendapat ejekan dan hinaan dari Yari, seorang peri jahat yang iri dengan kemampuan Mao.
Berikut adalah beberapa contoh kalimat yang menggunakan majas sarkasme dalam cerita tersebut:
- "Dasar bodoh! Kau selalu membuat kekacauan!" kata Yari.
- “Mulai sekarang, jangan dekati dia. Nanti kita ketularan bodohnya,” kata Yari.
- “Wah, wah, peri bodoh bisa marah juga,” kata Yari.
- "Kau mau jadi sok jagoan, ya? Jauhi Mao atau kami semua akan menjauhimu!" ucap Yari.
Dari contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bahwa Yari menggunakan majas sarkasme untuk mengejek dan menghina Mao dengan menggunakan kata-kata seperti bodoh, ketularan bodohnya, peri bodoh, dan sok jagoan. Yari juga menggunakan nada yang sinis dan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa tidak suka terhadap Mao.
Dengan menggunakan majas sarkasme, penulis dapat membuat karakter Yari menjadi lebih jelas dan kuat sebagai tokoh antagonis yang berlawanan dengan karakter Mao. Pembaca juga dapat merasakan emosi dan konflik yang terjadi antara kedua tokoh tersebut.
Komentar
Posting Komentar